BERGIZI TAK HARUS MAHAL Jilid I Amfoang Punya Cerita
BERGIZI TAK HARUS
MAHAL Jilid I, Amfoang Selatan Punya Cerita
By : Yuni
Damanik
Sudah hampir 2 tahun tidak menulis traveling
story di blog ini.. bukan karena ga pergi kemana – mana, tapi lebih disebabkan
waktu untuk menulis yang kurang banyak.. ( alasan klise )..
Kali ini saya mau bercerita tentang perjalanan
ke salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini bernama
Travel and writing Visit ( namanya aja udah pake writing.. artinya.. I must
share it in essay format ) yang bertujuan untuk kampanye pangan lokal khas dari
Desa Oe’Haem I dan II, kecamatan Amfoang Selatan Kabupaten Kupang NTT.
Saya sebagai nutrisionist yang memang sangat
bersentuhan dengan masalah pangan dan gizi sangat tertarik dan bersemangat
mengikuti perjanan ini. Walaupun sudah dibayang-bayangi dengan medan yang
sulit, akses jalan yang kurang bersahabat, tetapi tidak mengurangi semangat
saya dalam mengikuti kegiatan ini. Waktu tempuh kurang lebih 4 jam dari Kota
Kupang dan memang sangat dianjurkan untuk memiliki fisik yang kuat ( seperti
saya ) karena jalan rusak dan berbukit cukup membuat mual…

Perbukitan hijau, tebing batu dan pemandangan
pedesaan yang masih “original” dan tradisional menjadi hiburan sepanjang jalan.
Ditambah lagi sapaan hangat masyarakat desa yang dilewati seperti mengatakan
“selamat datang dan semoga betah”…..( mual pun hilang ).
Destinasi pertama kami adalah desa Oe’Haem II,
melewati beberapa “mata air” atau biasa disebut sungai kecil dan perkebunan
yang subur membuat udara di desa ini sejuk ( berasa diruangan AC ). Kami juga
melewati fasilitas kesehatan ( PUSTU ) membuat saya teringat tempat kerja (
bapeerr deh ).. banyak warga yang sedang antri disana, itu tandanya mereka
sudah mulai peduli tentang kesehatan ( sebuah kemajuan yang sangat baik )..

Sampai didesa Oe’Haem II, kami disambut dengan
ramah oleh tim pangan lokal desa yang bernama “Bibilu”. Mereka membentuk klub
pangan lokal untuk mendukung kampanye pangan lokal di desa ini. Tanpa basa
basi, mama – mama ( Ibu – ibu ) dari klub pangan lokal desa Oe’Haem II langsung
menyajikan beragam jenis pangan lokal khas desa ini. Ada yang disajikan utuh
adan juga yang sudah diolah menjadi kudapan ( kue ). Kacang Arbila, pisang
tanah ( ganyong ), ubi kayu, ubi jalar, madu hutan, minuman dari kayu secang (
penduduk desa menyebutnya “Kiskase”), dan sonel.

Dari semua pangan lokal yang disajikan, saya
tertarik dengan arbila, “kiskase” dan sonel. Jujur saja, baru pertama kali saya
melihat dan mencoba pangan lokal ini. Kacang arbila berbentuk bulat pipih,
hampir mirip dengan kacang merah tetapi ukurannya lebih besar. Kacang arbila
merupakan sumber protein nabati yang baik untuk dikonsumsi. Ada sedikit kendala
dalam proses pengolahannya, kacang arbila harus direbus 12 kali untuk menghilangkan
racunnya. Ini menjadi satu alasan kenapa warga sulit mengkonsumsi arbila setiap
hari.

Yang Berikutnya “kiskase” atau pada umumnya
dikenal dengan kayu secang. Menurut warga desa kayu ini sudah ada dihutan sejak
tahun 80an dan sudah dikonsumsi sebagai minuman dari dulu. Saya tertarik dengan
warna merah yang dihasilkan dari kayu ini dan rasa seperti teh. Warga desa
setempat percaya kiskase berkasiat menyembuhkan penyakit. Saya semakin
penasaran dengan kandungan kiskase ini. Saya mencari tahu dari beberapa jurnal
penelitian tentang kayu secang. Ternyata kayu ini mengandung Polifenol,
Flavonoid, Saponin dan Tanin yang berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh.
Rasanya juga enak, sangat dianjurkan untuk dikonsumsi terutama bagi lansia dan
pendeita peyakit degenerative ( hipertensi, Diabetes, dll ).
Yang terakhir sonel, bentuknya seperti biji
jagung tapi lebih kecil. Sonel biasanya diolah sebagai makanan pokok. Sayangnya
mama2 dari Bibilu tidak menyajikan sonel karena proses pengolahan yang sulit.
Ini menjadi PR besar buat saya sekaligus praktisi yang bergerak dibidang pangan
gizi ( teknologi pangan ) untuk sama – sama memikirkan bagaimana cara membuat
pangan lokal mudah untuk diolah seperti beras dll sehingga masyarakat bisa
mengkonsumsi pangan lokal tersebut setiap hari.
Perjalanan berlanjut ke desa berikutnya yaitu
desa Oe’Haem I, disini kami disugukan makan siang dengan pangan lokal. Ada
jagung bose ( jagung pipil yang dimasak dengan santan ), daun singkong rebus,
ubi rebus dan masih banyak lagi. Sayangnya karena sudah terlanjur sangat lapar,
saya ga sempat mengabadikan semua makanan di kamera ( maaf ya.. ).
Kegiatan pun selesai dengan tenaga yang tinggal
10 %, kami menempuh jalan pulang yang berkabut. Indah sekali…. Seperti berjalan
diatas awan… sejuk.. tapi cukup berbahaya karena jarak pandang kurang lebih 2M.
Dari pengalaman traveling kali ini, saya
belajar bahwa kembali ke “alam” lebih menyehatkan. Bergizi tak harus mahal, tak
harus yang punya kemasan bagus dan ada iklannya. Mari kembali mengkomsumsi apa
yang tanah kita hasilkan.
#ragampanganuntukdaulatpangan
#travelnvisit
#perkumpulanpikul
#kedaulatanpangan
Komentar
Posting Komentar